GpWpGUr5TpO5GUYoTSOlGUM9TY==
Breaking
News

"Jejak Sejarah dan Napas Kehidupan Kekinian"

Ukuran huruf
Print 0

 


Kisah Bissu : Penjaga Sakral Tradisi Bugis yang Bertahan dalam Zaman

                              Bagian 1

Bissu adalah komunitas spiritual yang berasal dari kebudayaan Bugis di Sulawesi Selatan. Mereka merupakan bagian dari lima gender tradisional dalam kosmologi Bugis: oroané (laki-laki), makkunrai (perempuan), calabai (laki-laki yang mengambil peran perempuan), calalai (perempuan yang mengambil peran laki-laki), dan bissu, yang dianggap suci karena menyatukan unsur maskulin dan feminin secara spiritual. Para Bissu bukan sekadar imam ritual; mereka adalah penjaga warisan budaya, pelantun doa-doa kuno, dan pemelihara komunikasi dengan dewata dalam ajaran Bugis pra-Islam.

Asal-usul para Bissu berkait erat dengan mitologi dan kosmologi Bugis. Mereka dipercaya sebagai keturunan langsung atau utusan dari To Manurung, makhluk langit yang turun ke bumi membawa perintah ilahi. Dalam teks Belanda berjudul De Kroning van den Koning van Goa (Penobatan Raja Goa) oleh M.J.A. Oostwoud Wijdenes, keberadaan Bissu secara historis dapat ditelusuri melalui deskripsi prosesi kerajaan:

Transliterasi sejarah:

"Daarop bracht men hem naar de vergaderplaats der Bisschoe’s of Boegineesche priesters, die in een kring gezeten waren. Hij nam zitting in het midden van dien kring en ontving de eerbewijzen der priesters, een en ander op eene wijze, die van het oudste ceremoniëele gebruik deed blijken."

Terjemahan:
"Kemudian ia dibawa ke tempat berkumpulnya para Bissu, yaitu para imam Bugis, yang duduk dalam satu lingkaran. Ia duduk di tengah-tengah lingkaran itu dan menerima penghormatan dari para imam tersebut, semuanya berlangsung dengan cara yang menunjukkan adat upacara tertua yang masih bertahan."

Kutipan ini menegaskan bahwa peran Bissu dalam pelantikan raja-raja sangat sakral, mencerminkan posisi mereka sebagai pemegang warisan ritual tertinggi. Dalam struktur kerajaan Bugis-Makassar, tidak ada pengesahan kekuasaan tanpa kehadiran para Bissu.

Masa kolonial dan Islamisasi membawa tantangan besar bagi kelangsungan hidup para Bissu. Mereka ditindas, dimarjinalkan, bahkan dianggap bertentangan dengan nilai-nilai agama yang dominan. Tekanan ini mencapai puncaknya pada masa Orde Baru, di mana Bissu sempat dianggap tak sesuai dengan “normalitas sosial.”

Namun, pada dekade terakhir, terjadi kebangkitan identitas Bissu. Beberapa komunitas, seperti di Segeri (Pangkep) dan Sidenreng Rappang, mulai menunjukkan eksistensi mereka kembali melalui festival budaya, seminar, dan dokumentasi etnografi. Bissu seperti Puang Matoa Saidi menjadi simbol perjuangan kultural, menyeimbangkan tradisi dan zaman.

Meski masih menghadapi stigma dan ketidakpahaman masyarakat luas, eksistensi mereka kini didukung oleh sejumlah akademisi, LSM budaya, hingga pemerintah daerah. Namun, regenerasi Bissu mengalami hambatan serius karena perubahan zaman dan minimnya ketertarikan generasi muda.

Berikut penulis cantumkan tulisan yang termuat dalam majalah Belanda terbitan.  01-03-1896 yang memuat kisah nyata saat dia menyaksikan langsung pertunjukkan dari para Bissu hingga tatacara dan ritual dari seseorang yang akan di inisiasi menjadi Bissu baru.

Mula-mula semua bissu berjongkok di tanah sementara musik terdiam. Beberapa saat kemudian, Poewamatowa memberikan isyarat, dan gendang gangrang mulai dimainkan dengan tempo sedang, agak lambat, dan suara yang lembut. Kita melihat mereka semua, sepuluh orang jumlahnya, berdiri bersama di tengah ruangan, di depan meja, mata mereka perlahan-lahan menengadah ke atas; tangan mereka membuat gerakan lambat dan anggun, mereka melangkah maju dan mundur, dengan langkah yang terukur berputar ke kiri, ke kanan, dan saling berputar satu sama lain hingga akhirnya mereka kembali ke posisi semula.

Perlahan-lahan musik menjadi lebih menggebu-gebu, gerakan mereka pun semakin cepat, gerakan kepala yang menggeleng, sorot mata yang berputar dan berubah arah, gerakan tangan yang ekspresif, mereka saling berlarian dan menari, memperlihatkan kesan gelisah dan takut. Seolah-olah mereka berada di hadapan makhluk tak kasat mata yang hendak mereka hindari; mereka mengekspresikan berbagai suasana hati, berlari maju dan mundur, saling bersilangan, memberi isyarat dengan tangan dan pakaian mereka, menari dan melompat dengan penuh semangat, dengan ekspresi marah, dan semakin lama emosi mereka memuncak, hingga akhirnya mereka tiba pada puncaknya dan tiba-tiba berjongkok kembali sementara musik pun terhenti. Pertunjukan pertama pun selesai. Anda seharusnya melihat betapa perhatian para penonton pribumi yang turut berjongkok mengikuti setiap gerakan mereka, betapa mereka tenggelam dalam apa yang mereka saksikan.

Setelah beberapa saat, musik kembali dimainkan. Dan kini mereka menengadah ke langit dengan tatapan memohon, seakan-akan memohon bantuan dari para roh. Gerakan tangan dan tubuh kembali mengikuti irama musik dengan keteraturan. Lihatlah bagaimana tangan mereka perlahan mendekati gagang keris, bagaimana mereka menariknya kembali, bagaimana mereka terus mencoba meraih senjata itu, bagaimana setiap kali mendekat mereka selalu mundur kembali, lalu mengangkat mata ke langit, dan melalui raut wajah serta berbagai sikap tubuh, mereka memperlihatkan ekspresi permohonan, tekad, amarah, dan kekuatan. Bersambung.....


"Jejak Sejarah dan Napas Kehidupan Kekinian"
Periksa Juga
Next Post

0Komentar

Tautan berhasil disalin