GpWpGUr5TpO5GUYoTSOlGUM9TY==
Breaking
News

Penjaga Sakral Tradisi Bugis yang Bertahan dalam Zaman

Ukuran huruf
Print 0
Kisah Bissu : Penjaga Sakral Tradisi Bugis yang Bertahan dalam Zaman 

"Jejak Sejarah dan Napas Kehidupan Kekinian" 
Bagian 2 

 Jelas terlihat bahwa ada pertarungan antara mereka dengan roh yang merasuki keris itu; butuh usaha besar untuk menaklukkannya. Akhirnya mereka berhasil menggenggam gagangnya, bilah keris berkilau keluar dari sarungnya, diangkat tinggi seolah-olah dalam kemenangan; musik pun menjadi semakin cepat, semakin keras dan kuat; seakan-akan musuh tak terlihat muncul di hadapan mereka, mereka mengayunkan senjata itu ke segala arah; seolah-olah mereka menghindar darinya, menyerangnya, menantangnya, dan seluruhnya terlibat dalam pertempuran yang dahsyat, sementara keris-keris itu mengamuk dengan kilatan cahaya hingga mereka meraih kemenangan.

Lalu dilanjutkan dengan pertunjukan lain. Dengan keris terangkat, mereka berdiri berbaris di tengah ruangan. Musik kembali dimainkan dan perlahan-lahan, mereka mengayunkan senjata dalam posisi bertahan, mengangkat, menurunkan, mengayun, menusuk, dan bertarung kembali melawan musuh tak kasat mata. Tanpa terasa musik menjadi semakin menggebu-gebu, dan gerakan serta ekspresi mereka mencerminkan perubahan tersebut dengan setia. Sungguh pemandangan yang luar biasa menyaksikan mereka, bersenjata keris, bergerak melintasi ruangan satu per satu, lalu saling bersilangan, berputar dan berbelok, kadang membungkuk, kadang berdiri tegak, selalu menyerang dan bertahan, membidik dan menghindar dengan keris, hingga akhirnya mereka mengayunkan senjata itu ke sekeliling dengan amarah, menyilaukan mata yang memandang.

Ketika ketegangan telah mencapai puncaknya, tiba-tiba salah satu dari para dukun itu jatuh tersungkur di hadapan kami dan menghujamkan keris ke arah saya, yang duduk di sudut meja, dengan kekuatan besar—pemandangan yang menggetarkan hati para tamu lainnya. Gerakannya begitu cepat sehingga sebelum saya menyadarinya, ujung keris sudah mengarah ke dada saya. Lalu ia memutar tubuh ke belakang, sementara yang lainnya tetap menari dan bertarung di latar belakang, ia mengulurkan tangan kiri; tangan kanannya yang terangkat menghujamkan keris dengan keras ke telapak tangan kirinya—namun tidak ada luka. Ia mengulanginya lagi, kali ini dengan kekuatan lebih besar, namun tetap tidak ada darah, tidak ada luka. Setelah itu, ia memperlihatkan kerisnya agar semua orang bisa melihat betapa tajam ujung dan sisinya, lalu, berdiri tepat di depan kami, ia menghujamkan keris ke telapak tangannya, semakin kuat, dengan pukulan yang makin cepat, namun tetap sia-sia, hingga akhirnya ia berjongkok, meletakkan tangan di tanah, menempelkan ujung keris ke permukaan dan mencoba menghujamkannya dengan paksa dan memutarnya, tetapi hasilnya tetap sama; hanya satu titik merah yang terlihat, tanda bahwa ujung keris benar-benar telah menyentuh tangan.

Sementara yang pertama mempertunjukkan keahliannya, yang lainnya satu per satu menyusul bergabung dengan rekan-rekannya; masing-masing mengulangi apa yang dilakukan oleh yang pertama, dan tak lama kemudian kita menyaksikan pemandangan di mana sepuluh pria berjuang dengan sekuat tenaga untuk melukai diri mereka, namun keris yang menghujam dengan kekuatan dan kecepatan yang meningkat itu tidak melukai satu pun dari mereka, tidak meneteskan setetes darah pun. Mereka pun kembali bersiap; berbaris, mulai bertarung lagi, gerakan mereka hampir sama seperti sebelumnya. Salah seorang kembali tersungkur, kali ini bukan di depan saya, tapi di tengah ruangan, yang lainnya menari di sekelilingnya. Ia memandangi ujung tajam keris itu, menengadahkan kepalanya, dan tiba-tiba mengangkat tangan satunya, lalu menusukkan keris dengan keras ke lehernya. Dengan penuh takjub, ia menariknya kembali tanpa luka, mengulanginya lagi, seolah-olah jengkel dengan ketidakmampuannya untuk dilukai, ia menusukkan dengan kemarahan yang makin besar, dengan pukulan yang makin kuat ke lehernya, namun tetap tidak ada luka yang terlihat. Kini ia menempelkan ujung tajam keris ke leher, menggenggam gagangnya dengan kedua tangan dan menghujamkannya serta memutarnya dengan harapan menimbulkan luka, namun hasilnya tetap nihil. Seperti sebelumnya, rekan-rekannya mengikuti aksinya, dan kami pun menyaksikan pemandangan yang begitu mengerikan dan menggelisahkan seperti belum pernah saya lihat sebelumnya. Para tamu pun tampaknya sudah cukup melihat, hingga sang kontrolir memberi isyarat kepada para dukun untuk menghentikan pertunjukan dan kembali ke rumah mereka.

Tak seorang pun yang membaca uraian di atas akan meragukan betapa besar pengaruh orang-orang ajaib ini terhadap penduduk pribumi yang mudah percaya. Mereka takut bahwa kemarahan para dewa atau roh-roh agung yang merasuki mereka akan menimpa mereka jika mereka mengabaikan perintah atau ajaran para bissu ini; dan meskipun mereka tampak menaati, itu bukan karena rasa hormat atau kagum, melainkan semata karena rasa takut; di dalam hati, mereka sebenarnya dipenuhi rasa curiga dan jijik terhadap para dukun ini. Bukti itu saya dapatkan dalam perjalanan pulang dari Segeri ke Makassar.

Saya menyewa sebuah perahu, dan menjelang malam kami menyeberangi sungai agar sebelum gelap sudah berada di laut lepas. Baru saja kami melewati muara, angin darat mulai berhembus kencang mengisi layar, dan para awak duduk mengelilingi tungku tanah liat di mana mereka menyalakan api untuk memasak nasi. Tak lama kemudian mereka terlibat dalam percakapan hangat, dan meskipun saya agak sulit memahami bahasa mereka, saya mengerti bahwa mereka sedang membicarakan pertunjukan para bissu. Mereka segera menyadari bahwa saya menyimak dengan penuh perhatian. Tiba-tiba juragan perahu berkata kepada saya:

“Tuang, saya kemarin juga melihat Anda bersama sang kontrolir, saat para bissu itu tampil. Apakah Anda memperhatikan pemuda tinggi dengan rambut panjang hitam dan mata besar, wajahnya agak cerah? Itu sepupu saya.”

“Oh begitu, Anda punya kerabat yang seorang bissu. Anda pasti bangga, bukan?”

“Ah, tuang, tidak. Anda harus tahu betapa kami semua menentangnya, sebab begini, tuang, ...

“Saya kira Anda menilai mereka dengan jujur. Saya pun yakin bahwa mereka bukan ... apakah Anda percaya mereka benar-benar kebal ? Tipuan, hanya itu.”

“Ah, tuang, apakah itu mungkin? Saya sulit percaya.”

“Namun itulah kenyataannya; mereka menguasai teknik tertentu, sehingga saat ujung keris menyentuh tangan atau leher, mereka bisa menahan daya tusuknya tanpa ada yang menyadarinya, dan gerakan memutar-mutar itu hanya sandiwara untuk menciptakan kesan seolah mereka sungguh ingin melukai diri. Tapi sebenarnya hanya tipu daya.”

“Tapi, tuang, itu keterlaluan.”

“Lalu apakah Anda percaya pada kemampuan mereka?”

“Oh tentu, tuang. Kalau Anda melihat sendiri apa yang saya lihat, Anda pasti juga percaya. Saya sendiri melihat sepupu saya mati dan hidup kembali; dia mati selama delapan hari, tiga di antaranya ia habiskan di dasar laut, lalu ia kembali hidup; saya sendiri melihat jenazahnya dibuang ke laut.”

“Bagaimana mungkin? Kapan itu terjadi?”

“Begini, saat roh pertama kali memasuki tubuh bissu, maka ia akan mati dan rohnya dibawa ke alam atas, dan setelah ia diajari seni rahasia para dewa, ia kembali dan hidup di dunia.”

Setibanya di Makassar, saya langsung mencari tahu tentang upacara yang dilakukan dalam proses inisiasi menjadi bissu. Dan benar saja, dari apa yang saya baca dari Dr. Matthes—penulis paling memahami tentang Sulawesi—saya menemukan bahwa kisah yang baru saja saya dengar tidak sepenuhnya mengada-ada.

Jika seseorang hendak diangkat menjadi bissu, maka diselenggarakan sebuah pesta yang berlangsung selama tujuh atau delapan hari. Selama itu, dilakukan berbagai praktik kepercayaan untuk mengundang roh agar merasuki orang tersebut. Dibuatlah semacam kamar tidur bagi para roh, yang dihiasi dengan benda-benda paling aneh. Para bissu berkumpul di sana dengan pakaian yang sangat rapi, melantunkan dua nyanyian yang sangat panjang; kemudian pemimpin para dukun memasuki ruangan suci itu untuk membakarnya dengan kemenyan dan mengoleskan minyak wangi di beberapa bagian. Para roh dibangunkan oleh nyanyian itu dan dimohon agar mereka—di mana pun mereka berada, di bumi, langit, atau alam bawah—berkenan hadir. Sementara itu para bissu lainnya menari di sekitar bangunan itu dan melakukan pertarungan bayangan dengan pedang kayu dan perisai. Mereka juga memercikkan air suci di sekitar bangunan itu, membakar kemenyan, dan kembali menyanyikan doa-doa dengan semangat.

Calon bissu akan menjalani semacam mandi suci yang membuatnya jatuh seketika, kaku seperti mayat. Ia kemudian diangkat, kepalanya diarahkan ke timur, dan pada hidung, pusar, serta kakinya dipasang pengait ikan agar roh kehidupan tidak keluar dari tubuh. Tubuhnya ditutup dengan kain halus. Dalam keadaan itu ia bisa tetap tak sadar selama beberapa hari; hanya pada waktu mandi pagi ia sedikit tersadar, hanya untuk segera kehilangan kesadaran lagi. Selama itu ia dianggap melayang di alam atas untuk menerima ajaran adikodrati; dan agar ia tidak sepenuhnya terlepas dari dunia, sang calon bissu kadang-kadang juga dibungkus dengan tikar dan dihanyutkan di laut selama tiga hari tiga malam, diiringi musik para bissu yang memekakkan telinga. Sebelum pesta diakhiri, diselenggarakanlah sebuah perjamuan untuk, menurut mereka, memulihkan kekuatan sang bissu baru yang telah mengalami penderitaan selama berhari-hari.

Setelah jamuan disiapkan, makanan dan minuman dibawa ke dalam kamar roh. Kemudian bissu baru, yang kini telah berpakaian lengkap di tempat duduknya, dibawa masuk dan dibaringkan di atas bantal. Akhirnya, pemimpin para bissu masuk ke ruang suci dan tiga kali, dengan bahasa para dewa, memanggil roh kehidupan sang bissu baru. Setelah itu ia diizinkan untuk menyantap hidangan yang ia sendiri sediakan. Setelah selesai makan, ia keluar dari kamar roh bersama pemimpin bissu, menerima ucapan selamat secara khidmat, dan dengan demikian resmilah ia menjadi bagian dari kaum bissu.

Referensi:

- Oostwoud Wijdenes, M.J.A. De Kroning van den Koning van Goa. Uit: Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, 1872.

- Graham, Sharyn. Sulawesi’s Bissu: Gender, Islam and Glocalisation. Journal of Southeast Asian Studies, 2004. 

- Millar, Susan B. Bugis Weddings: Rituals of Social Location in Modern Indonesia. University of California Press, 1989.

- Pelras, Christian. The Bugis. Oxford: Blackwell, 1996.

- De katholieke missiën; geïllustreerd maandschrift, in verbinding met het Lyonsch weekblad van het Genootschap tot Voortplanting des Geloofs, 01-03-1896.

- foto sebagai ilustrasi by ChatGPT (selesai)

Penjaga Sakral Tradisi Bugis yang Bertahan dalam Zaman
Periksa Juga
Next Post

0Komentar

Tautan berhasil disalin