Soppeng – Majalah pro.co.id --- Salah satu warga Kelurahan Botto, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, kini tak tau harus berbuat apa akibat ulah aparat pemerintah yang dinilai semena-mena dalam mengurus hak sosial rakyat kecil.
Seperti yang dialami oleh Muh. Fajri, warga Kelurahan Bottom yang menuturkan kepada Majalah pro.co.id Kamis (05/09/2025). Pasalnya seluruh bantuan sosial orang tuanya — mulai dari PKH hingga bantuan beras — tiba-tiba dihentikan tanpa alasan yang jelas ungkapnya.
Ironisnya lagi, BPJS Kesehatan gratis keluarganya juga dicabut sepihak. Hal ini baru terungkap ketika ayahnya hendak dirawat di Puskesmas Salotungo, namun ditolak lantaran status kepesertaan dinyatakan tidak aktif.
“Saya sangat kecewa. Bayangkan, bapak saya butuh perawatan mendesak, tapi tiba-tiba dibilang BPJS sudah tidak aktif. Alasannya katanya orang tua saya dianggap P3K. Saya tanya dasar hukumnya mana, bukti legalitasnya apa, tapi tidak ada yang bisa ditunjukkan. Ini benar-benar pelecehan terhadap rakyat kecil,” tegas Fajri.
Lebih jauh, ketika dirinya meminta klarifikasi ke pihak kelurahan Botto, bukannya mendapat penjelasan transparan, staf justru mengalihkan pembicaraan dan memberi jawaban mengada ada yang terkesan mengambang ujarnya.
“Mereka hanya bilang akan diaktifkan kembali, seolah-olah masalah ini hal biasa. Padahal ini menyangkut nyawa dan hak warga,” tambahnya.
Soalan ini menunjukkan adanya dugaan permainan kotor dan maladministrasi dalam penyaluran bantuan sosial dan layanan BPJS gratis di Kelurahan Botto yang cenderung tidak transparan sejauh inikah sistim pelayanan di kelurahan Botto kesan mendalam nyawa manusia seakan tak berarti.
Alih-alih berpihak pada rakyat, justru kebijakan sepihak tanpa transparansi dengan mempertontonkan dagelan wayan kulit usang.
Warga menuntut agar pemerintah kelurahan, Dinas Sosial, dan pihak BPJS segera buka suara. Jangan ada lagi praktik semena-mena yang memutus hak rakyat miskin tanpa dasar hukum yang jelas.
“Kalau hak-hak masyarakat terus dicabut tanpa alasan yang sah, untuk apa ada negara? Untuk apa ada pemerintah? Jangan hanya ingat rakyat ketika musim pemilu, tapi setelahnya dizalimi begini,” tutup Fajri dengan nada geram. (Red)

0Komentar